"welcome to my blog"

semoga kamu mendapatkan apa saja yang kamu butuhkan

Jumat, 19 November 2010

resensi novel Winter In Tokyo


Kisah Cinta Sejati

Judul           : Metropop – Winter In Tokyo
Pengarang   : Ilana Tan
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 320 halaman, 20cm


Ilana Tan. Begitu nama sang penulis yang novelnya cukup banyak terbit di Gramedia Pustaka Utama. Summer in Seoul, Autumn in Paris dan Spring In London adalah tiga di antaranya.
Sekilas namanya mirip dengan orang-orang di Asia Timur, tapi ia adalah orang indonesia, jikapun tidak, ia telah mengenal Indonesia cukup lama. Hal itu dikarenakan novel-novelnya bukanlah novel terjemahan, tapi novel asli Indonesia dan gaya bertutur katanya pun mirip dengan novel Indonesia lainnya, yaitu tidak berbelit-belit dan sangat mudah dimengerti.
Terlepas dari siapa penulis novel ini, yang jelas novel ini cukup bagus. Kali ini, Ilana Tan membawa pembaca ke Tokyo yang sedang bersalju dengan novelnya yang berjudul Winter In Tokyo.
Novel ini berkisah tentang Ishida Keko, gadis campuran Indonesia-Jepang yang masih menunggu cinta pertamanya, seorang anak SMP yang pernah membantu Keiko mencari kalungnya sewaktu dia masih SD. Ishida Keiko juga merupakan tetangga almarhum Fujisawa Tatsuya. Sejak kematian Tatsuya, apartemen 202 pun kosong. Kisah pun bergulir sampai Keiko kehadiran tetangga baru, Nishimura Kazuto namanya. Ia adalah seorang street photografer New York asal Jepang. Ia menyewa apartemen di depan apartemen Keiko. Dia kembali setelah 10 tahun lamanya tinggal di Amerika dan tidak pernah pulang ke Jepang. Alasan kepulangannya hanya satu, yaitu untuk melupakan Yuri - sahabat, tetangga dan wanita yang dicintainya - yang akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga mereka bisa menjadi akrab.
 Kazuto orangnya baik, menyenangkan dan bisa diandalkan. Perlahan-lahan, Keiko memandang Kazuto dengan cara berbeda dan rasanya sulit membayangkan hidup tanpanya.
Selama sebulan mereka bersama. Keiko memang merasa nyaman dengan Kazuto. Begitu pula dengan Kazuto, sejak awal ia sudah merasa ada sesuatu yang menarik dari Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila ada dia. Tapi bayangan cinta pertama Keiko selalu tidak mengijinkan Keiko untuk menyukai Kazuto. Keiko dihadapkan pada suatu dilema. Kitani Akara, cinta pertamanya 13 tahun lalu yang berhasil ia temui, atau Nishimura Kazuto, tetangga yang meminta Keiko untuk melihat kearahnya di hari natal itu. Apalagi setelah ia pada akhirnya bertemu dengan Kitano Akira yang sesungguhnya. Seolah melupakan Kazuto, Keiko terbuai dalam angannya sendiri. Kazuto dipihak lain, lebih ekspresif, mengingat pekerjaannya sebagai street fotografer, ia lebih cepat menyadari perasaannya terhadap Keiko. Fokus kemeranya selalu membidik sosok Keiko. Mengejar sosok Keiko tidak pernah bisa melihatnya. Semua berjalan begitu salah.
Tapi segalanya berubah ketika suatu hari Kazuto terbangun dengan kebingungan  dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir.  termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya, atau kejadian saat malam natal itu, ucapannya di stasiun itu, janjinya akan hari valentine itu, pokoknya semuanya.
Disaat dia tidak bisa mengingat apapun, Yuri datang. Membuat dia semakin jauh dari orang yang seharusnya dia sayangi. Namun perasaannya tidak bisa bohong. Kendati lupa akan kenangannya bersama Keiko, Kazuto tetap jatuh ke dalam perangkap cinta yang sama. Ia sekali lagi jatuh cinta pada Keiko. Namun Kazuto tidak bisa berkutik ketika hubungan Keiko dengan Kitano Akira semakin intim.
Ada yang membuat novel Winter In Tokyo ini berbeda dengan novel dewasa lainnya, yaitu sama sekali tidak mengeksplorasi nafsu manusia. Novel ini lurus, sehingga pembaca akan terbuai dengan kisah cinta sejati. Buku yang cukup bagus untuk mengisi rak buku anda. Pada halaman-halaman awal, dimulai dengan pengenalan tokoh-tokoh yang cukup mudah dimengerti. Bahasa yang digunakan simple dan mudah dipahami, karena tidak perlu mencerna begitu rumit untuk memahami buku ini. Istilah-istilah jepang yang ada juga dijelaskan melalui fotenote, jadi kita tidak akan bingung.
Cerita yang berkisar tentang roman sepasang kekasih ini, di isi oleh intrik-intrik yang cukup menarik. Penulis mencoba membuat ”kacau” hati sang pembaca dengan mengubah-ubah emosi secara fluktuatif. Alur cerita maju, dengan flashback-flashback yang cukup menjadi benang merah cerita. Secara keseluruhan jalan cerita mudah terbaca, hanya beberapa saja yang mengejutkan. Namun, penjabaran setting juga cukup bagus. Selain kita dapat berimajinasi dengan luas,  di novel ini juga memainkan teknik sudut pandang yang lumayan baik. Kerena menggunakan sudut pandang tokoh.
Namun nama-nama jepang yang jarang diketahui membuat kita harus membaca lebih  lama untuk menghafal tokoh-tokoh yang ada. Berikutnya ketika saya membacanya, saya agak sedikit menyesal karena tokoh dalam novel ini masih sedikit kolerasi dengan buku sebelumnya yaitu Autumn in Paris. Beberapa kata-kata baku memiliki ciri khas  novel terjemahan, tidak seperti penulis-penulis novel teenlit yang menggunakan bahasa sehari-hari.
Karakter seorang Keiko yang memiliki imajinasi yang berlebihan hingga menimbulkan kecemasan yang cukup kuat. Profil Kazuto – dari segi fisik – juga tidak jelas, berapa tingginya, warna kulitnya, serta ciri khas fisiknya tidak di deskripsikan dengan baik. Juga dengan penggambaran tokoh lainnya. Ide cerita Ilana Tan selalu menarik, hanya saja kurang digali lebih dalam.
Yang namanya jodoh memang berkelit-kelit. Namun tanpa kita sadari, tahu-tahu pada akhirnya bisa bersama orang yang dicintai setelah mengalami ujian dan cobaan yang mungkin bertahun-tahun, seperti Keiko dan Kazuto. Dengan adanya cerita seperti itu bisa diambil kesimpulan bahwa kisah cinta seseorang bisa menjadi menarik dengan adanya suatu masalah.
Pada kehidupan nyata, hal itu mungkin pernah terjadi meskipun hanya sekedar hampir mirip. Tapi intinya adalah, ketika kita ingin mengetahui sesuatu yang belum selesai permasalahannya, maka tunggulah jawabannya dimasa mendatang namun harus bersabar untuk menunggu saat itu tiba. Jalan keluar itu selalu ada.
Novel ini sangat cocok untuk remaja yang sedang kasmaran dan suka cerita yang berbau roman dan bisa membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh para tokoh. Novel ini juga bisa dijadikan nasehat untuk kita bahwa kita jangan takut soal jodoh. Jika memang sudah jodohnya pasti tidak akan kemana-mana. Meskipun diawal rasanya sulit penuh ujian dan cobaan dan sepertinya hal itu tidak mungkin. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar